Drs. Asngari, Siap Mencalonkan Presiden 2029

Drs. Asngari, Sang Ketua RW yang Siap Mencalonkan Presiden 2029

Gezah.com – Dari Rumah Sederhana di Sialang Bungkuk, Ketua RW Ini Pimpin Partai Republik Menuju Panggung Nasional

Di sebuah sudut kampung bernama Sialang Bungkuk, Tenayan Raya, Pekanbaru — di bawah rindangnya pohon mangga dan derik sunyi kampung pagi — berdirilah sebuah rumah sederhana yang hari ini menjadi pusat denyut politik sebuah partai nasional.

Di sana, 23 Juni 2025, kami duduk berhadap-hadapan dengan Drs. Asngari, seorang tokoh masyarakat yang tidak hanya dikenal sebagai Ketua RW 1 Kelurahan Sialangsakti, tetapi kini juga menjabat sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Republik, sebuah partai yang telah resmi diakui negara melalui SK Kementerian Hukum dan HAM RI pada tahun 2022.

Ia menyambut kami dengan senyum tenang dan tatapan tajam penuh harapan. Tak ada jas mewah, tak ada protokoler, hanya seorang pemimpin yang lahir dari rakyat, tumbuh bersama rakyat, dan kini menuntun arus politik nasional dari akar rumput yang sesungguhnya.

“Partai Republik bukan milik elite,” ucap Asngari sembari menyuguhkan secangkir kopi hitam. “Ini partai milik rakyat. Dari kampung ini, dari RW kecil ini, kita bangkit membangun kekuatan baru untuk Indonesia.”

Kisah perjuangan Asngari bukanlah narasi yang direkayasa demi pencitraan. Ia telah bertahun-tahun bergelut dalam masalah-masalah nyata warga: dari pengurusan drainase yang mandek, bantuan pendidikan yang tak tepat sasaran, hingga urusan dapur para janda tua yang ditopangnya secara pribadi.

Ketokohan Asngari dibangun bukan dari panggung seminar, tapi dari balai RW, dari pintu rumah ke pintu rumah, dari peluh hingga pelukan.

Kini, ia mengemban amanat jauh lebih besar: memimpin Partai Republik untuk bersuara di tingkat nasional. “Kami sudah bulat. Tahun 2029, Partai Republik akan mencalonkan Presiden dari rahim sendiri,” tegasnya.

“Kami tidak akan terus menjadi penonton demokrasi. Rakyat harus punya saluran baru, yang jujur, merakyat, dan tak terkontaminasi oleh oligarki.”

Dalam suasana akrab dan tanpa sekat, Asngari mengajak seluruh masyarakat Indonesia — dari kota hingga dusun, dari buruh hingga guru ngaji — untuk mengibarkan bendera Partai Republik di setiap hati dan rumah.

“Mari kita besarkan partai ini. Bukan karena saya ketua umumnya, tapi karena kita butuh harapan baru, arah baru,” ucapnya dengan suara bergetar.

Di luar rumahnya, anak-anak berlari sambil meneriakkan candaan. Seorang ibu membawa sayur dari pasar sambil menyapa sang ketua RW, “Pak Asngari, jangan lupa besok gotong royong, ya.”

Senyumnya kembali merekah. “Tidak akan saya lupa. Saya Ketua Umum, tapi saya tetap Ketua RW,” ujarnya sambil tertawa kecil. “Karena di situlah tempat kaki saya menapak.”

Mungkin inilah gambaran pemimpin yang selama ini dicari rakyat: bukan yang menjauh saat naik, tetapi yang tetap duduk di tikar rumah tetangganya, meski kini memimpin partai nasional.

Dari Sialang Bungkuk, politik Indonesia menemukan narasi baru: pemimpin yang tidak lahir dari istana, melainkan dari suara-suara lirih kampung yang lama dibungkam.

Penulis : Budi Gunawan
Editor : Riano Hugo

About the Author: Riano Hugo

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *